DIABETES MELLITUS
Menurut mekanisme kerjanya, AHO dapat dibagi dalam 4 golongan :
Diabetes
adalah penyakit yang tidak bisa disembuhkan dan sering disebut “mother of
disease” karena sering berimplikasi pada penyakit-penyakit yang lain. Pendeteksian
sejak dini memungkinkan kadar gula darah penderita diabetes bisa dikendalikan.
Tujuan pengobatan diabetes adalah untuk mempertahankan keseimbangan kadar gula
darah dan meminimalisasi risiko komplikasi.
Faktor
Resiko faktor risiko terkena diabetes antara lain sebagai berikut :
1. Riwayat
Keluarga
2. Obesitas Atau
Kegemukan
3. Usia yang semakin
bertambah
4. Kurangnya aktivitas
fisik
5. Merokok
6. Suka mengkonsumsi
makanan berkolesterol tinggi
7. Penderita
Hipertensi Atau Tekenan Darah Tinggi
8. Masa
Kehamilan
9. Ras Tertentu
10. Stres Dalam
Jangka Waktu Yang Lama
Dikatakan
menderita Diabetes Mellitus apabila menderita dua dari tiga gejala yaitu :
1.Keluhan:
Banyak makan dan minum, Banyak kencing dan Penurunan berat badan. Ditambah dg
kel tambahan.
2.Kadar glukosa
darah pada waktu puasa lebih dari 120 mg/dl
3.Kadar glukosa
darah dua jam sesudah makan lebih dari 200 mg/dl
4.Tes toleransi
glukosa Oral (TTGO).
DIAGNOSIS:
¡ Berbagai
keluhan dapat ditemukan pada penyandang diabetes.
¡ Kecurigaan
adanya DM perlu dipikirkan apabila terdapat keluhan klasik DM seperti di bawah
ini:
§ Keluhan
klasik DM berupa: poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan
yang tidak dapat dijelaskan sebabnya
§ Keluhan
lain dapat berupa: lemah badan, kesemutan, gatal, mata kabur, dan disfungsi
ereksi pada pria, serta pruritus vulvae pada wanita
1. Jika keluhan
klasik ditemukan, maka pemeriksaan glukosa plasma sewaktu >200 mg/dL sudah
cukup untuk menegakkan diagnosis DM
2. Pemeriksaan
glukosa plasma puasa≥
- 126 mg/dL dengan adanya keluhan klasik
- Tes toleransi glukosa oral (TTGO). Meskipun TTGO dengan beban 75 g glukosa lebih sensitif dan spesifik dibanding dengan pemeriksaan glukosa plasma puasa, namun pemeriksaan ini memiliki keterbatasan tersendiri. TTGO sulit untuk dilakukan berulang-ulang dan dalam praktek sangat jarang dilakukan karena membutuhkan persiapan khusus
|
|
|
Bukan
DM
|
Belum
pasti DM
|
DM
|
|
Kadar
Glukosa darah sewaktu
|
Plasma
Vena
|
< 100
|
100-199
|
> 200
|
|
(mg/dL)
|
Darah
Kapiler
|
< 90
|
90-199
|
> 200
|
|
Kadar
Glukosa darah puasa
|
Plasma
Vena
|
< 100
|
100-125
|
> 126
|
|
(mg/dL)
|
Darah
Kapiler
|
< 90
|
90-99
|
> 100
|
Penanganan
diabetes yang umumnya dianjurkan adalah memulai
gaya hidup sehat yang mencakup :
1.
Menerapkan pola makan yang sehat :
a) Batasi penggunaan gula,
b). Uric acid : batasi
makanan yang mengandung JASBUKET: jeroan, alkohol, sarden, burung dara, unggas,
kaldu, emping, tape,
c). Lipid/ Lemak:
Hindari makanan yang berlemak, kurangi makanan yang mengandung TEK - KUK – CS2:
telur, keju, kepiting, udang, kerang, cumi – cumi, susu, santan,
d). Hipertensi:
Hindari konsumsi garam yang berlebihan
2.
Teratur berolahraga.
3. Menurunkan
berat badan,
khususnya bagi yang mengalami kegemukan atau obesitas (indeks berat badan 30
atau lebih).
4.
Berhenti merokok,
5. Membatasi
atau berhenti mengonsumsi minuman beralkohol. Kandungan
alkohol dalam minuman keras dapat mempertinggi risiko hiperglikemia dan
hipoglikemia. Jangan mengonsumsi minuman beralkohol pada saat perut kosong,
6. Menjaga kondisi kaki. Borok pada
kaki merupakan komplikasi yang umum dialami oleh penderita diabetes tipe 2.
Karena itu, jagalah kondisi kaki Anda dan waspadai luka yang tidak kunjung
sembuh.
7. Memeriksakan kondisi mata secara
rutin. Frekuensi pemeriksaan mata rutin yang dianjurkan adalah sekali setiap 2
tahun.
Klasifikasi
DM digolongkan menjadi 1. Diabetes Mellitus tergantung insulin(DMTI)/ IDDM . 2
Tipe 2. Tipe tak tergantung insulin (DMTTI/NIDDM) - Tipe 3. Diabetes Kehamilan
(GDM). - Tipe 4. Lain dan Tipe 5. Gangguan Toleransi Glukosa
Klasifikasi
Diabetes Mellitus berdasarkan etiologinya :
|
Tipe
|
Keterangan
|
|
1.
|
Diabetes
mellitus Tipe 1
Destruksi
sel B umumnya menjurus kearah defisiensi insulin absolute
|
|
2
|
Diabetes
mellitus Tipe 2
Bervariasi
mulai yang predominan resistensi insulin disertai defisiensininsulin relative
sampai yang predominan gangguan sekresi insulin bersama resistensi insulin.
|
|
3
|
Diabetes
mellitus Gestasional
Diabetes
mellitus yang muncul pada masa kehamilan, umumnya bersifat sementara, tetapi
merupakan risiko untuk DM Tipe 2
|
|
4.
|
Diabetes
mellitus Tipe Lain
-
Defek genetic fungsi sel B
-
Penyakit pancreas.
-
Autoimun
|
|
5.
|
Gangguan
Toleransi Glukosa
|
Pengobatan DM Tipe 2
meliputi perencanaan makan, latihan fisik, penyuluhan, obat AHO dan insulin.
Bukti klinis dari berbagai klinik menunjukkan bahwa hanya 10 % pasien
yang berhasil dengan perencanaan makan, latihan fisik dan penyuluhan dan
hanya 10 % berindikasi pemberian insulin sedang sisanya 80% membutuhkan
pengobatan dengan obat antihiperglikemik oral (AHO).
Pemakaian sulfonilurea
sebagai terapi tunggal masih dilakukan pada pengobatan DM dengan AHO akan tetapi
telah diketahui bahwa pemberian sulfonilurea memberi kegagalan primer
atau sekunder yang pada penelitian menunjukkan 5-10 % setiap
tahunnya pemakai sulfonilurea mengalami kegagalan. Tercatat kadar glukosa
rata-rata akan kembali ke nilai awal setelah 5 tahun pengobatan dan tidak
jarang pada pasien DM tipe-2 yang baru ditegakkan dengan kadar glukosa darah
puasa > 200 mg% tidak mencapai kontrol euglikemik dengan pengobatan
monoterapi saja. Diperlukan insulin sebagai tambahan untuk mencapai kontrol euglikemik.
Biasanya sebelum ditambahkan insulin, pengobatan AHO lain yang mempunyai
mekanisme kerja berbeda dengan AHO pertama diberikan secara kombinasi.
Setiap kombinasi 2 obat antihiperglikemik oral (AHO) diharapkan
akan memberi efek sinergistik atau tambahan dalam menurunkan glukosa
darah dengan efek samping yang kurang dan outcome yang lebih baik.
Pengobatan tunggal AHO
pada DM tipe 2 yang gemuk biasanya dimulai dengan metformin sedang pada mereka
yang berat badannya normal atau tidak gemuk pengobatan dimulai dengan
sulfonilurea. Pengobatan kombinasi pada DM tipe 2 yang gemuk maupun tidak
gemuk pada prinsipnya sama yang penting kedua obat mempunyai mekanisme kerja
berbeda. Untuk hal tersebut maka dalam artikel ini akan diutarakan mengenai
pengobatan kombinasi obat antihiperglikemik oral (AHO), akan tetapi sebelumnya
dijelaskan mengenai pembagian dan mekanisme kerja berbagai jenis obat AHO.
Regulasi glukosa darah
dan patogenesis DM tipe-2
Mekanisme regulasi
glukosa darah dan patogenesis hiperglikemia DM tipe 2 sampai saat ini
masih belum diketahui dengan pasti karena sampai saat ini belum diketahui
proses mana yang lebih dahulu terjadi. Berbeda dengan DM tipe-1
dimana penyebabnya sebagian besar disebabkan oleh proses autoimun dan hanya
sebagian kecil tidak diketahui penyebabnya.
Dalam keadaan normal
tubuh senantiasa mempertahankan kadar glukosa darah dalam batas-batas normal.
Ada 3 organ yang berperan utama dalam pengaturan kadar glukosa plasma yaitu sel
beta pankreas dengan menghasilkan insulin untuk menurunkan glukosa darah, hati
meningkatkan glukosa plasma dengan proses glukogenolisis dan
glukoneogenesis dan otot menurunkan glukosa plasma dengan meningkatkan
ambilan terhadap glukosa.
Pada keadaan puasa
kebutuhan glukosa berasal dari hati yang disebut produksi glukosa
hati (glukosa endogen) sedang pada keadaan setelah makan maka glukosa berasal
dari makanan (glukosa eksogen). Pada keadaan sesudah makan sebagian besar
glukosa plasma akan masuk jaringan seperti sel otot, hati, sel lemak dan
sebagian masuk dalam jaringan yang tidak peka insulin seperti otak, usus,
sel darah merah.
Insulin adalah merupakan
faktor utama dalam mempertahankan kadar glukosa darah berkisar 70-120 mg/dl.
Insulin berfungsi merangsang asupan glukosa di perifer khususnya sel
otot, hati dan insulin menekan sintesis atau pelepasan glukosa oleh hati
dengan kata lain insulin menekan proses glukoneogenesis dan
glukogenolisis. Pada DM tipe-2 proses mana yang lebih dahulu terjadi
apakah gangguan sekresi insulin oleh sel beta pankreas atau menurunnya kepekaan
jaringan perifer (resistensi insulin) belum diketahui dengan pasti . Namun pada
DM tipe-2 yang gambaran klinisnya sudah jelas kedua kelainan tersebut
ditemukan bersamaan.
Pembagian obat
antihiperglikemik oral (AHO).
Dalam beberapa tahun
terakhir telah ditemukan beberapa jenis AHO sehingga golongan sulfonilurea yang
mendominasi AHO mulai berkurang dengan munculnya obat acarbose,
repaglinide, nateglinide dan thiazolidinedione.
Menurut mekanisme kerjanya, AHO dapat dibagi dalam 4 golongan :
1. Obat yang kerjanya
untuk menghambat absorbsi karbohidrat di usus yaitu golongan Alfa
glucosidase inhibitor (acarbose).
2. Obat yang kerjanya
merangsang sekresi insulin (insulin secretagogue)
a.
Golongan sulfonilurea (Glibenclamide, Gluquidone, Gliclazide, glipizide,
Glimepiride)
b.
Golongan nonsulfonilurea ( Repaglinide, Nateglinide, Meglitinide ).
3. Obat yang kerjanya menghambat produksi glukosa di hati Metformin
(glucophag, Formell, Diabex, Glukotide).
4. Obat yang kerjanya meningkatkan ambilan glukosa
(glucose uptake) di jaringan perifer yaitu
thiazolidinedione, metformin dan sulfonilurea.
Dalam beberapa tahun
terakhir telah ditemukan beberapa jenis AHO sehingga golongan sulfonilurea yang
mendominasi AHO mulai berkurang dengan munculnya obat acarbose,
repaglinide, nateglinide dan thiazolidinedione.
Bila ditilik mekanisme
kerja masing-masing golongan obat tersebut maka sulfonilurea terutama mempunyai
kerja meningkatkan sekresi insulin pada sel beta pankreas dengan menghambat
dan menutup ATP dependent K channel, sehingga K efflux menurun, terjadi
retensi kalium (K) , menyebabkan depolarisasi yang membuka votage Ca ++
channel mengakibatkan influx Ca++ meningkat, merangsang eksositosis granula
insulin sehingga akhirnya sekresi insulin meningkat. Selain itu
sulfonilurea dapat berfungsi menekan sel-sel alfa menghasilkan glukagon dan
merangsang sel delta untuk meningkatkan sekresi somatostatin yang merupakan
penghambat glucagon.
Glimepiride adalah
golongan sulfonilurea generasi ke 3 yang mempunyai kelebihan dari
generasi sebelumnya yaitu selain meningkatkan sekresi insulin, juga
meningkatkan asupan glukosa di perifer dengan memacu translokasi GLUT 4
untuk masuknya glukosa dalam sel dan efek hipoglikemik yang minimal dan tidak
menyebabkan vasokonstriksi perifer. Golongan obat nonsulfonilurea seperti
repaglinide, nateglinide mempunyai tempat reseptor tersendiri atau berbeda
dengan tempat reseptor sulfonilurea dan tidak memacu secara langsung
eksositosis insulin dalam meningkatkan sekresi insulin. Obat ini dikenal dengan
“Prandial Glucose Regulator” sehingga timbul konsep No Meal- No Dose.
Repaglinide adalah AHO
yang mempunyai struktur molekuler, mekanisme kerja, dan ekskresi yang
unik. Walaupun bukan sulfonilurea akan tetapi obat ini dimasukkan kedalam
kelompok insulin secretagogue karena mekanisme kerjanya merangsang sekresi
insulin dari sel beta pankreas akan tetapi waktu paruhnya pendek dan
sebagian besar tidak diekskresi lewat ginjal serta cepat diabsorbsi.
Berbeda dengan
sulfonilurea, metformin mempunyai mekanisme kerja bukan meningkatkan sekresi
insulin di sel beta pankreas akan tetapi terutama bekerja menghambat
produksi glukosa oleh hati dengan menekan glukoneogenesis dan glikogenolisis.
Selain itu metformin bekerja pada daerah jaringan perifer dengan meningkatkan
asupan glukosa (glucose-uptake) dan menghambat absorbsi glukosa di usus.
Obat penyekat alfa
glukosidase acarbose menurunkan kadar glukosa plasma postprandial dengan
memperlambat absorbsi karbohidrat di usus dan menghemat pemakaian insulin.
Thiazolidinediones dalam
hal ini troglitazone, rosiglitazone, pioglitazone adalah obat yang
diperkenalkan sebagai insulin sensitizer karena meningkatkan sensitivitas
insulin baik terhadap hati maupun pada organ lainya dan otot skelet.
Pengobatan kombinasi
Dari berbagai obat
antihiperglikemik oral (AHO) yang dikenal saat ini maka sangat rasional
bila dua macam AHO yang mekanisme kerjanya berbeda dikombinasi sehingga
diperoleh efek kontrol glikemik yang lebih baik dibanding bila obat diberikan
secara tunggal.
Sulfonilurea telah
terbukti dalam pemberiannya memerlukan dosis yang semakin meningkat
dan tidak mustahil pada suatu ketika dosis obat sudah maksimal akan tetapi
kadar glukosa darah belum terkontrol baik (gagal sekunder). Hal ini disebabkan
karena ketidak mampuan sel beta untuk lebih meningkatkan sekresi insulin
walaupun diberikan dosis maksimal. Disamping itu resistensi insulin
lambat laun semakin meningkat.
Pengobatan kombinasi
pada awalnya baru dimulai bila salah satu jenis AHO yang diberikan sudah dosis
maksimal, namun tidak mampu mengendalikan kadar glukosa plasma, sehingga perlu
AHO lain yang mempunyai titik tangkap yang berbeda dengan AHO yang
pertama. Baik sulfonilurea maupun metformin pada pemberian jangka lama,
ternyata memerlukan dosis semakin meningkat untuk mencapai derajat
kontrol glikemik, akan tetapi efek samping obat semakin meningkat pula. Untuk
itu diperlukan tambahan AHO lain sebelum dosis maksimal dicapai.
Pemberian AHO secara kombinasi dapat diberikan lebih dini dengan dosis
yang lebih kecil dengan alasan adanya gangguan sekresi insulin dan gangguan
resistensi insulin. Penelitian oleh asosiasi diabetes Amerika (ADA)
merekomndasikan indikasi pengobatan kombinasi AHO pada pasien DM
tipe-2 dengan HbAic > 8%.
Beberapa
kemungkinan kombinasi AHO adalah sebagai berikut:
1. Sulfonilurea dengan metformin
2. Sulfonilurea dengan penyekat alfa glukosidase(acarbose)
3. Sulfonilurea dengan repaglinide/nateglinide
4. Sulfonilurea dengan thiazolidinedione
5. Metformin dengan nateglinide
6. Metformin dengan acarbose
7. Metformin dengan thiazolidinediones
8. Nateglinide dengan thiazolidinediones
1. Sulfonilurea dengan metformin
2. Sulfonilurea dengan penyekat alfa glukosidase(acarbose)
3. Sulfonilurea dengan repaglinide/nateglinide
4. Sulfonilurea dengan thiazolidinedione
5. Metformin dengan nateglinide
6. Metformin dengan acarbose
7. Metformin dengan thiazolidinediones
8. Nateglinide dengan thiazolidinediones
1.
Sulfonilurea dengan metformin
Kombinasi sulfonilurea dengan metformin bekerja
saling sinergistik, dapat ditolerir dan memperbaiki kontrol glikemik dan kadar
lipid pada DM tipe-2 yang tidak terkendali dengan hanya perencanaan makan dan
sulfonilurea.Di Amerika Serikat pemakaian sulfonilurea pada DM tipe-2 umumnya
merupakan pilihan pertama AHO, namun ternyata 30 % pasien yang menerima
sulfonilurea mengalami kegagalan sejak awal pengobatan sedang 70 % berhasil,
namun masih akan mengalami kegagalan rata-rata 4-5% pertahun. Ternyata
dengan kombinasi metformin akan memberi efek kontrol glikemik, aman
karena mekanisme kerja kedua obat ini berbeda. Metformin menurunkan glukosa
darah dengan menurunkan produksi glukosa hati dan meningkatkan asupan glukosa
di jaringan perifer sedang sulfonilurea meningkatkan sekresi insulin.
Kadar lipid menurun sebagaimana bila metformin diberikan sendiri. Demikian pula
bahaya asidosis laktat walaupun meningkat akan tetapi sama dengan apabila
diberikan sendiri.
Dalam penelitian uji klinis dengan
randomized, double-blind, control study terhadap 632 pasien dengan kadar
glukosa darah puasa > 250 mg% dan HbA1c 8,8% memperlihatkan perbaikan dalam
6 bulan bila dengan terapi kombinasi antara glyburide dengan metformin.
Demikian pula penelitian UKPDS terhadap 591 pasien yang kontrol jelek
dengan pengobatan tunggal setelah ditambahkan metformin memberikan
penurunan glukosa darah sebesar 30 % dan HbA1c menurun 0,5% secara sangat
bermakna dibanding bila diberikan pengobatan tunggal saja. Dengan terapi
kombinassi sulfonilurea dan metformin juga memperlihatkan simptom hipoglikemia
menurun, kenaikan berat badan tidak meningkat dibanding dengan pemberian
sulfonilurea sendiri.
Demikian pula keluhan-keluhan gastrointestinal
yang sering ditemukan pada pemberian metformin justru menurun pada
pengobatan kombinasi.
2. Sulfonilurea dengan penyekat alfa glukosidase(acarbose)
Pemberian tambahan acarbose pada pasien DM
tipe-2 yang mendapat sulfonilurea memberi efek tambahan dalam menurunkan kadar
glukosa plasma terutama penurunan glukosa darah postprandial dibanding
terapi kombinasi sulfonilurea dengan metformin.
Pada pasien-pasien yang gagal sekunder
dianjurkan memberikan AHO golongan acarbose karena hal ini dapat menunda
pemakaian insulin. Terbukti ditemukan penurunan kebutuhan insulin setelah
ditambahkan acarbose pada beberapa pasien. Acarbose atau miglitol walapun
bukan insulin sensizer akan tetapi membantu kerja insulin dengan cara
langsung memperlambat absorpsi glukosa setelah makan dan menurunkan
jumlah insulin yang diperlukan pada postprandial. Dengan demikian
kombinasi sulfonilurea dengan acarbose akan memeperbaiki gukosa
darah puasa dan postprandial. Penelitian secara multisenter, double-blind,
cross-over study menunjukkan penurunan glukosa darah , HbA1c lebih
baik dibanding dengan sulfonilurea dan placebo.
3. Sulfonilurea dengan repaglinide.
Penelitian secara prospektif, multisenter,
selama 1 tahun dengan double blind menunjukkan repaglinide sama
efektifnya dengan sulfonilurea pada pengobatan DM tipe-2. Walaupun repaglinide
dan sulfonilurea mempunyai mekanisme kerja yang sama yaitu insulin
sekretagoque, kedua obat ini dapat dikombinasi dengan alasan mempunyai tempat
reseptor yang berbeda pada sel beta pankreas dan tidak memacu sel secara
langsung exositosis dari insulin. Dengan demikian secara teoritis repaglinide
dapat dikombinasi dengan sulfonilurea, namun masih memerlukan penelitian lebih
lanjut.
4. Sulfonilurea dengan thiazolidinediones.
Kombinasi sulfonilurea dengan thiazolidinediones
bekerja sinergistik dalam kontrol glikemik pada DM tipe-2 dan terbukti sama
efektifnya dengan kombinasi sulfonilurea dengan metformin. Pada uji klinis
double-blind dengan kontrol plasebo pada 552 pasien DM tipe-2 yang tidak
terkontrol dengan glibenklamide 12 mg perhari diberikan tambahan
troglitazone 400 mg perhari dan hasilnya dapat menurunkan kadar glukosa
plasma puasa sebesar 15 %.
5. Metformin dengan nateglinid /
repaglinide
Penelitian dari Horton dkk. menunjukkan
efek nateglinid bila dikombinasi dengan metformin saling
melengkapi dalam memperbaiki kontrol glikemik DM tipe-2. Nateglinid
menurunkan hiperglikemik postprandial. Penurunan HBA1c 0,5 % bila hanya dengan
terapi nateglinid dan jika hanya metformin menurun 0,8 % sedang bila
dikombinasi maka penurunan HbA1c 1,4%.
Penelitian terhadap 467 pasien DM tipe-2 yang
gagal dengan pengobatan metformin dosis >1500 mg perhari, bila ditambahkan
nateglinide 60-120 mg perhari, selama 24 minggu penelitian
menunjukkan penurunan bermakna kadar glukosa plasma puasa dan HbA1c. Bila
repaglinide dikombinasi dengan metformin HbA1c menurun dari 8,3% menjadi
6,9%(p.<0,002) dan kadar glukosa darah puasa menurun dari 10,2 menjadi
8,0 mmol/l (p<0,001). Sedang apabila kedua obat ini diberikan secara tunggal
hasilnya tidak bermakna menurunkan kadar glukosa darah puasa maupun Hb A1c.
Selanjutnya Moses memperlihatkan kombinasi metformin dengan repaglinide
lebih efektif dibanding bila diberikan secara tunggal.
6. Metformin dengan
thiazolidinediones
Kombinasi metformin dengan
thiazolidindiones saling menyokong khususnya pada pasien DM tipe-2 yang
resistensi insulinnya dominan. Metformin menekan produksi glukosa di hati
dan thiazolidinediones khususnya troglitazone mempunyai titik tangkap
meningkatkan uptake glukosa di otot.
7. Nategklinide dengan
thiazolidinedione
Penelitian secara multisenter terhadap 256
pasien DM tipe-2 selama 33 minggu, menunjukkan kombinasi repaglinide dengan
troglitazone menurunkan secara bermakna HbA1c dari 8,9 menjadi 7,9% pada pasien
yang diterapi dengan repaglinide saja dan dari 8,6 menjadi 7,3 % bila
pengobatan kombinasi repaglinide dengan troglitazone pada 14 minggu pengobatan.
Sedang apabila pasien mendapat hanya dengan troglitazone hasilnya justru
meningkat dari 8,6 ke 8,7 %. Dengan demikian dapat disimpulkan ada efek
sinergistik obat kombinasi repaglinide dengan troglitazone sehingga lebih
efektif dibanding diberikan secara tunggal. Tidak ditemukan efek hipoglikemia
selama penelitian berlangsung.
Telah dilakukan penelitian pengobatan kombinasi
nateglinide dengan troglitazone dan Hasil akhir setelah
penelitian, menunjukkan penurunan kadar glukosa
darah puasa dan HbA1c secara statistik sangat bermakna,
dibanding jika ke dua obat tersebut digunakan dengan pengobatan tunggal.
Daftar pustaka
1. Chiu KC, Permutt MA. Genetic factors in the
pathogenesis of NIDDM. In textbook of
diabetes edit Pickup J,William G. 1st edit.Blackwell science ltd.
Massachussets USA.1997;18.1-18.10.
2. Kruszynska YT. Metabolic disturbances in
diabetes mellitus. In textbook of diabetes edit Pickup J,William G. 1st
edit. Blackwell science ltd. Massachussets USA.1997;29.1-29.5
3. Consoli A.Role of liver in pathofisiology of
NIDDM. Diab.care.1992;15:430-441.
4. DeFronzo RA, Bonadonna RC, Ferranini E.
Pathogenesis of NIDDM. Diab. Care 1992;15:318-368.
5. Sidartawan Soegondo : Penatalaksanaan
diabetes melitus tipe 2 Naskah lengkap Simposium Free radicals in
Diabetes and their interaction with sulphonylureas 24 Maret 2001
Diamicron Scientific Collection .Jakarta. 2000 ; 1-9.
6. Riddle M . Combining sulfonylureas and other
oral agents. The Am J of Med. Proceedings of a symposium.2000;108(6A):15S-22S.
7. Askandar TJ. Novel OHA : a Prandial
Glucose Regulator (Introduction with Repaglinide.Naskah lengkap Simposium Diabetes
mellitus “New aproach in the treatment of type 2 diabetes 21-22 Oktober 2000
Makassar, Editor:Adam JMF, Sanusi H, Aman M. Perkeni cabang Makassar.2000;
13-18.
8. Harrower,ADB. Comparison of efficacy,
secondary failure rate and complications of sulfonylureas. J.Diab Comp 1994;8,201-213.
9. Kabayoshi M.Glimepiride : An oral
antidiabetic agent. in Diabetes in the millennium edited by:
Turtle,JR., Kaneko T, Osato S . The Endocrinology and Diabetes Research
Foundation of The University of Sydney .Sydney.2000 : 203-206.
10.Chow CC. Repaglinide for prandial glucose
regulation. Medical progress.2000;27:37- 40.
No comments:
Post a Comment