Sunday, 19 February 2017


EFEK SAMPING OBAT YANG DAPAT DIPERKIRAKAN




Sebagian besar obat mempunyai beberapa efek, tetapi biasanya hanya satu efek yang bersifat sebagai “therapeutic effect”  yang dipergunakan sebagai pengobatan penyakit. Kadangkala efek terapeutik dari suatu obat untuk fungsi tertentu pada fungsi lain dapat berubah menjadi efek samping. Misalnya ketika pasien membeli obat untuk membantu masalah kesulitan tidur, drowsiness merupakan efek therapeutic dari antihistamin, tetapi jika pasien membeli obat allergy yang mengandung antihistamin maka drowsiness merupakan efek samping.


WHO mendefinisikan efek samping sebagai " Adverse drug reaction isa response to a drug that is noxious and unintended and occurs at doses normally used in man for the prophylaxis, diagnosis or therapy of disease, or for modification of physiological function 

Noxious : injurious, hurtful, harmful.
Definisi ini tidak termasuk efek samping obat atau ADR (Adverse Drug Reaction) yang ditimbulkan karena kesalahan penggunaan obat ( medication error )

Seringkali, kejadian efek samping obat ini pada seorang pasien tidak dengan mudah dikenali, kecuali kalau efek samping yang terjadi adalah bentuk yang berat dan menyolok.


Setiap obat mempunyai kemungkinan untuk menyebabkan efek samping, oleh karena seperti halnya efek
farmakologik, efek samping obat juga merupakan hasil interaksi yang kompleks antara molekul obat dengan tempat kerja spesifik dalam sistem biologik tubuh. Kalau suatu efek farmakologik terjadi secara ekstrim, inipun akan menimbulkan pengaruh buruk terhadap sistem biologik tubuh.

Beberapa contoh efek samping misalnya:
a)       reaksi alergi akut karena penisilin (reaksi imunologik),
b)       hipoglikemia berat karena pemberian insulin (efek farmakologik yang berlebihan),
c)       osteoporosis karena pengobatan kortikosteroid jangka lama (efek samping karena penggunaan jangka lama),
d)       hipertensi karena penghentian pemberian klonidin (gejala penghentian obat - withdrawal syndrome),
e)       fokomelia pada anak karena ibunya menggunakan talidomid pada masa awal kehamilan (efek teratogenik),
Salah satu jenis efek samping obat.adalah efek samping yang dapat diperkirakan yang mencakup :

1. Aksi farmakologik yang berlebihan :

Efek samping jenis ini umumnya dijumpai pada pengobatan dengan depresansia susunan saraf pusat, obat-obat pemacu jantung, antihipertensi dan hipoglikemika/antidiabetika. Beberapa contoh spesifik dari jenis efek
samping ini misalnya:
Ø  Depresi respirasi pada pasien-pasien bronkitis berat yang menerima pengobatan dengan morfin atau
benzodiazepin.
Ø  Hipotensi yang terjadi pada stroke, infark miokard atau kegagalan ginjal pada pasien yang menerima
Ø  obat antihipertensi dalam dosis terlalu tinggi.
Ø  Bradikardia pada pasien-pasien yang menerima digoksin dalam dosis terlalu tinggi.
Ø  Palpitasi pada pasien asma karena dosis teofilin yang terlalu tinggi.
Ø  Hipoglikemia karena dosis antidiabetika terlalu tinggi.
Ø  Perdarahan yang terjadi pada pasien yang sedang menerima pengobatan dengan warfarin, karena
secara bersamaan juga minum aspirin.
.
Semua pasien mempunyai risiko untuk mendapatkan efek samping karena dosis yang terlalu tinggi ini, dan upaya pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan perhatian khusus terhadap kelompok-kelompok pasien dengan risiko tinggi tadi (penurunan fungsi ginjal, penurunan fungsi hepar, bayi dan usia lanjut). Selain itu riwayat pasien dalam pengobatan yang mengarah ke kejadian efek samping juga perlu diperhatikan.

  2.  Respon karena penghentian obat : 
 Gejala penghentian obat (= gejala putus obat, withdrawal syndrome) adalah munculnya kembali gejala penyakit semula atau reaksi pembalikan terhadap efek farmakologik obat, karena penghentian pengobatan. Contoh yang banyak dijumpai misalnya:
- agitasi ekstrim, takikardi, rasa bingung, delirium dan konvulsi yang mungkin terjadi pada penghentian pengobatan dengan depresansia susunan saraf pusat seperti barbiturat, benzodiazepin dan alkohol,
- krisis Addison akut yang muncul karena penghentian terapi kortikosteroid,
- hipertensi berat dan gejala aktivitas simpatetik.
- gejala putus obat karena narkotika.
Reaksi putus obat ini terjadi, karena selama pengobatan telah berlangsung adaptasi pada tingkat reseptor. Adaptasi ini menyebabkan toleransi terhadap efek farmakologik obat, sehingga umumnya pasien memerlukan dosis yang makin lama makin besar (sebagai contoh berkurangnya respons penderita epilepsi terhadap fenobarbital/fenitoin, sehingga dosis perlu diperbesar agar serangan tetap terkontrol). Reaksi putus obat dapat dikurangi dengan cara menghentikan pengobatan secara bertahap misalnya dengan penurunan dosis secara berangsur-angsur, atau dengan menggantikan dengan obat sejenis yang mempunyai aksi lebih panjang atau kurang poten, dengan gejala putus obat yang lebih ringan.


3.  Efek samping yang tidak berupa efek farmakologik utama :
 
Efek-efek samping yang berbeda dari efek farmakologik utamanya, untuk sebagian besar obat umumnya telah dapat diperkirakan berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan secara sistematik sebelum obat mulai digunakan untuk pasien. Efek-efek ini umumnya dalam derajad ringan namun angka kejadiannya bisa cukup tinggi. Sedangkan efek samping yang lebih jarang dapat diperoleh dari laporan-laporan setelah obat dipakai dalam populasi yang lebih luas.
Data efek samping berbagai obat dapat ditemukan dalam buku-buku standard, umumnya lengkap dengan perkiraan angka kejadiannya. 
Sebagai contoh misalnya:
- Iritasi lambung yang menyebabkan keluhan pedih, mual dan muntah pada obat-obat kortikosteroid oral, analgetika-antipiretika, teofilin, eritromisin, rifampisin, dll.
- Rasa ngantuk (drowsiness) setelah pemakaian antihistaminika untuk anti mabok perjalanan (motion sickness).
- Kenaikan enzim-enzim transferase hepar karena pemberian rifampisin.
- Efek teratogenik obat-obat tertentu sehingga obat tersebut tidak boleh diberikan pada wanita hamil
- Penghambatan agregasi trombosit oleh aspirin, sehingga memperpanjang waktu pendarahan.
- Ototoksisitas karena kinin/ kinidin, dsb.


Semoga dapat menambah wawasan tentang obat dan  bermanfaat.



  



 



 


No comments:

Post a Comment