EFEK SAMPING OBAT YANG DAPAT DIPERKIRAKAN
Sebagian
besar obat mempunyai beberapa efek, tetapi biasanya hanya satu efek yang
bersifat sebagai “therapeutic effect” yang dipergunakan sebagai
pengobatan penyakit. Kadangkala efek terapeutik dari suatu obat untuk fungsi tertentu pada fungsi lain dapat berubah menjadi efek samping. Misalnya ketika pasien membeli obat untuk membantu
masalah kesulitan tidur, drowsiness merupakan efek therapeutic dari
antihistamin, tetapi jika pasien membeli obat allergy yang mengandung
antihistamin maka drowsiness merupakan efek samping.
WHO mendefinisikan efek samping sebagai " Adverse drug reaction is “a response to a drug that is noxious and unintended and occurs at
doses normally used in man for the prophylaxis, diagnosis or therapy of
disease, or for modification of physiological function”
Noxious :
injurious, hurtful, harmful.
Definisi ini tidak termasuk efek samping obat atau ADR (Adverse Drug Reaction) yang ditimbulkan karena kesalahan
penggunaan obat ( medication error )
Seringkali,
kejadian efek samping obat ini pada seorang pasien tidak dengan mudah dikenali,
kecuali kalau efek samping yang terjadi adalah bentuk yang berat dan
menyolok.
Setiap
obat mempunyai kemungkinan untuk menyebabkan efek samping, oleh karena seperti
halnya efek
farmakologik,
efek samping obat juga merupakan hasil interaksi yang kompleks antara molekul
obat dengan tempat kerja spesifik dalam sistem biologik tubuh. Kalau suatu efek
farmakologik terjadi secara ekstrim, inipun akan menimbulkan pengaruh buruk
terhadap sistem biologik tubuh.
Beberapa
contoh efek samping misalnya:
a) reaksi alergi akut karena penisilin
(reaksi imunologik),
b) hipoglikemia berat karena pemberian
insulin (efek farmakologik yang berlebihan),
c) osteoporosis karena pengobatan
kortikosteroid jangka lama (efek samping karena penggunaan jangka lama),
d) hipertensi karena penghentian pemberian
klonidin (gejala penghentian obat - withdrawal syndrome),
e) fokomelia pada anak karena ibunya
menggunakan talidomid pada masa awal kehamilan (efek teratogenik),
Salah satu jenis
efek samping obat.adalah efek samping yang dapat diperkirakan yang mencakup :
1. Aksi farmakologik yang berlebihan :
Efek samping jenis ini umumnya dijumpai
pada pengobatan dengan depresansia susunan saraf pusat, obat-obat pemacu
jantung, antihipertensi dan hipoglikemika/antidiabetika. Beberapa contoh
spesifik dari jenis efek
samping ini misalnya:
Ø Depresi respirasi pada pasien-pasien
bronkitis berat yang menerima pengobatan dengan morfin atau
benzodiazepin.
Ø Hipotensi yang terjadi pada stroke, infark
miokard atau kegagalan ginjal pada pasien yang menerima
Ø obat antihipertensi dalam dosis terlalu
tinggi.
Ø Bradikardia pada pasien-pasien yang
menerima digoksin dalam dosis terlalu tinggi.
Ø Palpitasi pada pasien asma karena dosis
teofilin yang terlalu tinggi.
Ø Hipoglikemia karena dosis antidiabetika
terlalu tinggi.
Ø Perdarahan yang terjadi pada pasien yang
sedang menerima pengobatan dengan warfarin, karena
secara bersamaan juga minum aspirin.
.
Semua pasien mempunyai risiko untuk
mendapatkan efek samping karena dosis yang terlalu tinggi ini, dan upaya
pencegahan dapat dilakukan dengan memberikan perhatian khusus terhadap
kelompok-kelompok pasien dengan risiko tinggi tadi (penurunan fungsi ginjal,
penurunan fungsi hepar, bayi dan usia lanjut). Selain itu riwayat pasien dalam
pengobatan yang mengarah ke kejadian efek samping juga perlu diperhatikan.
Gejala penghentian obat (= gejala putus
obat, withdrawal syndrome) adalah munculnya kembali gejala penyakit semula atau
reaksi pembalikan terhadap efek farmakologik obat, karena penghentian
pengobatan. Contoh yang banyak dijumpai misalnya:
- agitasi ekstrim, takikardi, rasa bingung,
delirium dan konvulsi yang mungkin terjadi pada penghentian pengobatan dengan
depresansia susunan saraf pusat seperti barbiturat, benzodiazepin dan alkohol,
-
krisis Addison akut yang muncul karena penghentian terapi kortikosteroid,
-
hipertensi berat dan gejala aktivitas simpatetik.
- gejala
putus obat karena narkotika.
Reaksi putus obat ini terjadi, karena
selama pengobatan telah berlangsung adaptasi pada tingkat reseptor. Adaptasi
ini menyebabkan toleransi terhadap efek farmakologik obat, sehingga umumnya
pasien memerlukan dosis yang makin lama makin besar (sebagai contoh
berkurangnya respons penderita epilepsi terhadap fenobarbital/fenitoin,
sehingga dosis perlu diperbesar agar serangan tetap terkontrol). Reaksi putus
obat dapat dikurangi dengan cara menghentikan pengobatan secara bertahap
misalnya dengan penurunan dosis secara berangsur-angsur, atau dengan
menggantikan dengan obat sejenis yang mempunyai aksi lebih panjang atau kurang
poten, dengan gejala putus obat yang lebih ringan.
3. Efek samping yang tidak berupa efek farmakologik utama :
Efek-efek samping yang berbeda dari efek
farmakologik utamanya, untuk sebagian besar obat umumnya telah dapat
diperkirakan berdasarkan penelitian-penelitian yang telah dilakukan secara
sistematik sebelum obat mulai digunakan untuk pasien. Efek-efek ini umumnya
dalam derajad ringan namun angka kejadiannya bisa cukup tinggi. Sedangkan efek
samping yang lebih jarang dapat diperoleh dari laporan-laporan setelah obat
dipakai dalam populasi yang lebih luas.
Data efek samping berbagai obat dapat
ditemukan dalam buku-buku standard, umumnya lengkap dengan perkiraan angka
kejadiannya.
Sebagai contoh misalnya:
- Iritasi lambung yang menyebabkan keluhan
pedih, mual dan muntah pada obat-obat kortikosteroid oral, analgetika-antipiretika,
teofilin, eritromisin, rifampisin, dll.
- Rasa ngantuk (drowsiness) setelah
pemakaian antihistaminika untuk anti mabok perjalanan (motion sickness).
- Kenaikan enzim-enzim transferase hepar
karena pemberian rifampisin.
- Efek teratogenik obat-obat tertentu
sehingga obat tersebut tidak boleh diberikan pada wanita hamil
- Penghambatan agregasi trombosit oleh
aspirin, sehingga memperpanjang waktu pendarahan.
- Ototoksisitas karena kinin/ kinidin, dsb.
Semoga dapat menambah wawasan tentang obat dan bermanfaat.
No comments:
Post a Comment